November 23, 2015

AIR DAN API

BY R. IRINNE DEVITA ARIANY IN , , No comments


Apa mauku?
Apa maumu?
Slalu saja menjadi satu masalah yang tak kunjung henti
Bukan, bukan aku egois. Aku cuma ingin ini semua jelas. Tapi aku salah.
Harusya gak perlu menuntut.
Ditambah terlalu sibuk, cuek, gak perhatian, jelek dan gak sempurna.
Maumu. Mungkin cuma ingin hidup bebas dari wanita bodoh.

Bukan maksudku
Bukan maksudmu
Untuk selalu meributkan hal yang itu-itu saja
Terjadi lagi. Kamu jenuh. Karna tabiatku yang buruk.
Gak memperlakukan kamu layak, cuek. Persis seperti dulu.
Dan kamu menemukannya, gadis yang jauh lebih sempurna dari wanita bodoh ini.

Mengapa kita saling membenci
Awalnya kita slalu memberi
Apakah mungkin hati yang murni, sudah cukup berarti?
Dan pada akhirnya ini berakhir.
Kamu dengan perasaan yang lain, dan mungkin aku membencimu.
Benci adalah sebuah cinta yang dibelenggu oleh rasa sakit.
Tidak lagi berarti, waktu yang panjang ini.
Orang bilang cinta tidak berubah, tapi manusialah.
Aku paham itu sekarang.

Ataukah kita belum mencoba memberi waktu pada logika
Jangan seperti selama ini hidup bagaikan air dan api
Logika. Logika apa yang kita punya?
Bahkan akal sehat pun tidak sampai untuk membuat pikiran kita jernih.
Aku terlalu sibuk dengan urusanku, dan kamu kubiarkan pergi dengan memandang gadis lain.
Kau bilang ini salahmu? Bukan ini salahku, ini pernah terjadi dulu.
Logika. Logika apa yang kita punya?
Aku terlalu sibuk menuntutmu, menekanmu.
Aku tau kamu hanya ingin bebas, menikmati hidup.
Kamu pun tau itu.
Tapi tak ada yang beranjak memperbaiki. Kamu sibuk dengak kalimat ‘tidak bisa’, dan aku sibuk dengan air mata bodoh di sudut ruangan.
Ini berakhir.

0 komentar:

Posting Komentar