Mei 06, 2014

Pengaruh Munculnya Subjektivitas Media Massa Terhadap Persepsi Masyarakat Pedesaan [Berfikir dan Menulis Ilmiah]

BY R. IRINNE DEVITA ARIANY IN , No comments


Makalah Akhir Berfikir dan Menulis Ilmiah

PENGARUH MUNCULNYA SUBJEKTIVITAS MEDIA MASSA TERHADAP PERSEPSI MASYARAKAT PEDESAAN



Oleh
R. Irinne Devita Ariany
I34120017


Dosen
Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si.
Ir. Murdianto, M.Si.
Dr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, M.A.






DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013


ABSTRAK


R. Irinne Devita Ariany. Pengaruh Munculnya Subjektivitas Media Massa Terhadap Persepsi Masyarakat Pedesaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang menyebabkan munculnya subjektivitas media massa dan menganalisis pengaruhnya terhadap persepsi masyarakat pedesaan. Kini media massa sudah menjadi salah satu media pengembangan masyarakat. Namun subjektivitas media massa pada pihak tertentu yang kini muncul memberikan dampak tidak baik bagi berita-berita yang beredar di masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yang seharusnya butuh banyak informasi.Akibatnya persepsi masyarakat pedesaan yang sudah mulai haus informasi itu justru berubah menjadi apatis. Hal ini berdampak pada sulitnya mengembangkan masyarakat pedesaan lewat media massa. Makalah ini dibuat berdasarkan sumber sekunder dari beberapa skripsi sebelumnya dan berbagai sumber sekunder yang relevan.

Kata kunci: media massa, subjektivitas pers, persepsi masyarakat

PRAKATA

          Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat-Nya tugas makalah akhir Berfikir dan Menulis Ilmiah yang berjudul“Pengaruh Munculnya Subjektivitas Media Massa Terhadap Persepsi Masyarakat Pedesaan” dapat terselesaikan tepat waktu.Makalah ini ditulis untuk memenuhi penugasan Mata Kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komunikasi da Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si.,Ir. Murdianto, M.Si.danDr. Ir. Ekawati S. Wahyuni, M.A. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penyusunan makalah ini. Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Eva Masrivah Febriani da Hernaldi selaku asisten pembimbing yang telah mengarahkan penulis hingga makalah ini selesai.



Bogor, Juni 2013



R. irinne Devita Ariany
NIM. I34120017




PENDAHULUAN

Latar Belakang

Media massa merupakan sarana bagi masyarakat untuk mendapatkan berbagai macam informasi. Perkembangan  masyarakat yang kini terjadi begitu pesat juga dikarenakan peran media massa. Menurut Denis McQuail (1996), media massa merupakan sumber kekuatan – alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya. Tidak dapat dipungkiri peran media massa saat ini menjadi bagian yang sangat penting bagi masyarakat, khususya bagi masyarakat pedesaan yang sangat membutuhkan banyak informasi. Namun di sisi lain, masyarakat pedesaan tidak mengerti bahkan cenderung bersikap apatis terhadap adanya media massa. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah keberpihakan media massa atau sikap subjektif media kepada pihak tertentu.
Salah satu kasus yang dapat menggambarkan subjektivitas media massa adalah pada kasus yang terjadi belum lama ini, yaitu kasus korupsi yang menyandung salah satu partai politik besar di Indonesia. Media menyudutkan partai tersebut yang seolah-olah menganggap bahwa mereka adalah partai yang anggotanya paling banyak terlibat korupsi.Padahal jika ditelisik lagi, partai-partai lain pun pernah tersandung kasus korupsi namun karena adanya back up dari media tertentu, kasus itupun hilang dengan sendirinya dari pemberitaan.
Selama perkembangannya, media massa kini menjadi alat yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak tertentu. Media massa yang didirikan oleh institusi tertentu kemudian dimanfaatkan demi kepentingan pribadi pihak tersebut.Menurut Tede (2012), media massa diketahui memiliki kekuatan mengendalikan pengetahuan khalayaknya melalui apa yang disiarkan dan tidak disiarkannya. Dengan kata lain pemberitaan media massa mempengaruhi persepsi suatu masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Jika dihubungkan dengan subjektivitas media massa pada pihak tertentu, maka timbul dampak tidak baik bagi berita-berita yang beredar di masyarakat.

Perumusan Masalah

1.  Apa saja faktor yang menyebabkan munculnya subjektivitas media massa?
2.  Bagaimana pengaruh subjektivitas media massa yang kini muncul terhadap persepsi masyarakat pedesaan?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak bagi berita-berita yang beredar di masyarakat pedesaan akibat subjektivitas media massa. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1.  Mengidentifikasi faktor apa saja yang menyebabkan munculnya subjektivitas media massa.
2.  Menganalisis pengaruh subjektivitas media massa yang kini muncul terhadap persepsi masyarakat pedesaan.

BAB I

MEDIA MASSA

1.1     PengertianSingkat Media Massa

Media massa adalah suatu alat yang digunakan seseorang untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas. “Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas.Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.” (UNM 2011)
Pada UU No XI/1966 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers Bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa, “pers adalah lembaga kemasyarakatan alat revolusi yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa yang bersifat umum berupa penerbitan teratur waktu terbitnya, diperlengkapi atau tidak diperlengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan, alat-alat foto, klise, mesin-mesin stensil atau alat-alat teknik lainnya.”[1]

1.2     Kebebasan dan Kode Etik Pers

Seiring dengan perkembangannya, kini pers memiliki UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers.[2] Poin a dalam UU tersebut menguraikan bahwa “kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 UUD 1945 harus dijamin.”
Selain memiliki UU yang memberikan angin segar kepada pers mengenai kebebasannya, pers juga memiliki kode etik[3], yaitu:
1.        Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilakan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad  buruk.
2.        Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
3.        Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas parduga tak bersalah[4]
4.        Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
5.        Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebut kan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
6.        Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
7.        Wartawan Indonesia memiliki hak tolak[5] untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo[6], informasi berlatar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
8.        Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
9.        Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
10.    Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
11.    Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

1.3     Peran dan Dampak Media Massa

Media massa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pembangunan negara. Menurut Hidayat (2009), media massa atau pers berperan mendampingi tiga pilar utama dalam sebuah negara, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Selain sebagai pengawas pemerintah, pers juga berperan penting dalam perimbangan kekuasaan antara pemerintah dan masyarakat.
Media memiliki dampak bagi kehidupan sehari-hari, yaitu: 1). Peningkatan jumlah pesan dan media; 2). peningkatan kapasitas penyimpanan dan pengambilan kembali informasi; 3). mensubstitusi komunikasi untuk transportasi; 4). membaurnya konsep-konsep di kantor dan di rumah; 5). perubahan penggunaan media; 6). meningkatnya nilai informasi sebagai suatu komoditi; 7). meningkatnya ketersediaan pengalaman sintetis. (Hubeis 2010)
Dapat disimpulkan bahwa media massa sangat berpengaruh dalam kehidupan di masyarakat, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Media massa juga memiliki ‘kekuatan’ tersendiri untuk mempengaruhi persepsi masyarakat karena media juga berperan sebagai kontrol di masyarakat. Dengan kata lain media massa juga dapat disebut sebagai media pengembangan masyarakat bila dilihat dari perannya.

1.4     Objektivitas dan Subjektivitas Media Massa

Media massa  memiliki peran penting dalam membentuk persepsi masyarakatatas sebuah pemberitaan yang dipublikasikannya. Pesan dan komunikasi yang berlangsung antara media dan khalayak lebih condong membahas masalah politik, ekonomi, sosial budaya masyarakat, dan hiburan sesuai dengan orientasi media tersebut.Namun sebuah media haruslah tetap bersikap objektif atas pemberitaannya.
Menurut KBBI, Objektif adalah mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi. Sedangkan subjektif adalah mengenai atau menurut pandangan (perasaan) sendiri, tidak langsung mengenai pokok atau halnya.
Berita dalam media massa sangatlah rentan terhadap pengaruh-pengaruh dari pihak tertentu. Hal tersebut menyebabkan objektivitas suatu media massa dalam mempublikasikan sebuah berita dipertanyakan. Menurut Novira (2012), terlihat adanya ketimpangan antaramemegang teguh kepada prinsip demokrasi yang ‘bebas dan bertanggung jawab’ atau mengikuti ‘arahan’ dari sang pemilik modal perusahaan pers atau media tersebut. Dari hal tersebut dapat dilihat satu sisi media yang dikatakan objektif dan satu sisi lagi media hanyalah sarana yang membentuk citra positif bagi siapa saja yang memiliki kekuasaan dalam organisasi media atau pers tersebut.

1.5     Faktor-faktor yang mempengaruhi subjektivitas media massa

Tanpa disadari atau tidak, kini sudah muncul penyimpangan fungsi media massa. Media massa yang seharusnya mampu menjadi kontrol pemerintahan, kini justru lebih banyak ditukangi oleh institusi tertentu yag berdampak pada pemberitaannya yang tidak subjektif.
Banyak faktor yang menyebabkan subjektivitas media massa muncul. Pertama, menurut Batubara (2009) sebagian bsear penerbit pers berkategori tidak sehat bisnis dan mempekerjakan jurnalis yang tidak memenuhi standar.Kedua, banyak wartawan hidup dari amplop, yaitu liputannya bukan untuk mengontrol pemerintah tetapi untuk memeras.Ketiga, medianya eksis bukan karena ditopag oleh dukungan pembaca, pendengar, pemirsa, dan pengiklan, tetapi berkat amplop dan pemaerasan.
Selain hal-hal tersebut, kini kebanyakan perusahaan media massa juga dimiliki oleh politisi-politisi yang menyebabkan pemberitaannya dibuat untuk pencitraan politisi tersebut. Ideologi juga menjadi salah satu faktor yag mempengaruhi, terdapat beberapa suratkabar yang kini pemberitaannya mengikuti ideologi tertentu.

BABII

PENGARUH SUBJEKTIVITAS PERS TERHADAP PERSEPSI MASYARAKAT PEDESAAN

“Persepsi adalah proses dengan mana seseorang menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi inderanya.” (Hubeis2010). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi seseorang akan dipengaruhi oleh berbagai hal yang dilihat, didengar, atau dirasakannya. Begitupun persepsi masyarakat pedesaan, meskipun mereka terbilang sulit mendapatkan informasi dari luar, namun mereka mampu mengtahuinya dari berbagai media massa yang sudah masuk ke pedesaan. Berbagai pemberitaan media tersebut mempengaruhi persepsi dan poa pikir mereka. Berikut diuraikan sebuah sempel penelitian yang meneliti tentang keterdedahan media massa peternak sapi potong di beberapa desa.
Pada awal penelitiannya, Saleh (2006) mengungkapkan bahwa dari kalangan peternak maju maupun tidak maju sama-sama dominan sudah memiliki media massa, baik itu radio, televisi maupun berlangganan koran dan majalah. Hal ini membuktikan bahwa kebutuha masyarakat pedesaan terhadap media massa sudah sangat tinggi.
Meski pada awala penelitian terlihat bahwa masyarakat desa kini rata-rata telah memiliki berbagai media massa, namun gambaran tersebut berbeda jauh dari gambaran penelitian selajutnya mengenai perilaku masyarakat. Gambaran tersebut dapat dilihat melalui tabel 1 berikut ini.

Tabel 1.      Sebaran responden berdasarkan keterdedahan media massa di kelompok kurang maju dan maju (dalam persen)

Jenis Peubah
Kategori
Kelompok kurang maju
Kelompok Maju
Cisitu
Surade
Total
Gedangsari
Polokarto
Total
Perilaku mendengar radio
Tidak dengar
Mendengar
21,87
78,13
26,67
73,33
24,19
75,81
16,67
83,33
45,45
54,55
31,75
68,25
Perilaku menonton televisi
Tidak tonton
Menonton
12,50
87,50
13,33
86,67
12,90
87,10
0,00
100,00
3,03
96,97
1,59
Perilaku baca koran
Tidak baca
Membaca
90,63
9,38
87,88
12,12
88,71
11,29
50,00
50,00
86,67
13,33
98,41
31,16
n
32
30
62
30
33
63
Sumber: Saleh. 2006:103

Radio
Tabel 1 menyebutkan bahwa lebih dari seperempat responden mengaku tidak pernah mendengar radio, sedangkan sisanya terdedah pada radio.Selain itu, Saleh (2006) juga mengungkapkan bahwa reponden yag dibagi menjadi kelompok maju dan tidak maju ini memiliki perbedaan selera mengenai acara yang disiarkan oleh radio. Dari kelompok maju lebih menyukai berita sekitar 42 persen, sedangkan kelompok kurang maju lebih menyikai acara-acara kesenian yaitu sekitar 51 persen.
Televisi
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa animo masyarakat desa untuk menonton televisi sangat besar yaitu 93 persen menonton televisi dan sisanya mengaku tidak.Saleh (2006) juga menyebutkan bahwa responden paling sering menonton berita yaitu 84 persen.Satsiun televisi yang jadi primadona adalah RCTI, Indosiar dan SCTV.
Suratkabar
Dalam tabel 1, disebutkan bahwa responden yang membaca surat kabar hanya 22 persen sedangkan 78 persen sisanya mengaku tidak membaca. Menurut Saleh (2006), setengah dari responden tertarik membaca Peristiwa dan Pembangunan,hampir 17 persen senang membaca politik, sisanya membaca ekonomi, bisnis, olahraga dan hiburan.
Dari data yang sudah dijelaskan, dapat dilihat kini masyarakat sudah terbuka kepada media massa. Masyarakat mulai butuh informasi politik, pembangunan ataupun hiburan. Saat kepercayaan masyarakat kepada media massa mulaimuncul, justru media massa malah menyimpang dari fungsinya. Selain beritanya yang tidak objektif, media massa tidak jarang memberitakan ssesuatu yang seharusnya tidak perlu digembor-gemborkan.
Hal itu membuat masyarakat pedesaan menjadi kembali enggan mencari informasi mengenai pembangunan negeri ini yang kebanyakan dipengaruhi politik.Seperti yang disebutkan sebelumnya, politik kini sudah menguasi media. Kini masyarakat pedesaan cenderung memilih acara-acara hiburan yang sama sekali tidak mendidik. Keadaan ini mengakibatkan sulitnya sebuah desa berkembang karena pola pikir masyarakat yang sudah terpengaruh subjektivitas media massa.

PENUTUP

Kesimpulan

Segala pemberitaan media massa seharusnya bersifat objektif, namun seiring perkembagan zaman hal itu semakin tidak diperhitungkan. Maka kini muncullah media massa yang terang-terangan mengumbar subjektivitasnya. Hal tersebut menyebabkan masyarakat pedesaan yang sudah mulai membuka diri kepada media menjadi bingung dan sulit memilih media massa mana yang tidak terpengaruh unsur-unsur subjektif. Bahkan tidak sedikit masyarakat pedesaan yang enggan melihat pemberitaan media massa. Hal tersebut dapat dilihat dari desa-desa yang sulit untuk berkembang karena masyarakatnya yang apatis terhadap media massa.

Saran

Subjektivitas media massa memang sulit dihilangkan, namun ada baiknya jika pers yang bersangkutan kini mulai berfikir untuk tidak meraup keuntungan saja, tapi juga emikirkan apa yang akan terjadi di masyarakat atas pemberitaan yang mereka buat. Selain itu, dari pihak masyarakat pedesaan juga diperlukan ketelitian dalam mencari dan mencerna berita yang muncul agar informasi yang mereka terima bisa diterjemahkan dengan benar.






















 




DAFTAR PUSTAKA


Abidin W I. 2005. Politik hukum pers. Jakarta [ID]: Grasindo. 195 hal.
Hubeis A VS, editor. 2010. Dasar-dasar komunikasi. Bogor [ID]: Sains KPM IPB Pr. 378 hal.
Kansong U. 2009.Television news reporting & writing: Panduan praktis menjadi jurnalis televisi. Bogor [ID]: Ghalia Indonesia.
McQuail D. 1996. Teori komunikasi massa: suatu pengantar. Jakarta [ID]: Erlangga. 313 hal.
Saleh A. 2006. Tingkat penggunaan media massa dan peran komunikasi aggota kelompok peternak dalam jaringan komunikasi penyuluhan. [skripsi]. Bogor [ID]: InstitutPertanian Bogor.203 hal.
Samsuri, editor. 2009. Problematika kemerdekaan pers di Indonesia. Jakarta [ID]: Dewan Pers. 142 hal.
Tede M. 2008. Keterdedahan penilaian responden terhadap programsiaran radio, dan faktor-faktor yangmempengaruhinya.[skripsi]. Bogor [ID]: InstitutPertanian Bogor.






























[1]Abidin W I. 2005. Politik hukum pers. Jakarta [ID]: Grasindo. hal 145-146
[2] Ibid. hal 182
[3]Kanong U. 2009.Television news reporting & writing: panduan praktis menjadi jurnalis televisi. Bogor. [ID]: Ghalia Indonesia. hal. 104-107.
[4]  Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.
[5]  Hak tolak adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.
[6]  Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.

0 komentar:

Posting Komentar