Mei 06, 2014

Pengaruh Modernisasi Terhadap Kehidupan Sosial-Budaya Suku Baduy [Makalah Akhir Antropologi Sosial]

BY R. IRINNE DEVITA ARIANY IN , No comments


Makalah Akhir Antropologi Sosial

PENGARUH MODERNISASI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA SUKU BADUY



Oleh
R. Irinne Devita Ariany/ I34120017
Rezky Eka Fauzia / I341200106


Dosen
Dr.Ir. Saharuddin, M.Si





DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014


PRAKATA

          Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat-Nya tugas makalah akhir Antropologi Sosialyang berjudul“Pengaruh Modernisasi terhadap Kehidupan Sosial-Budaya Suku Baduy” dapat terselesaikan tepat waktu.Makalah ini ditulis untuk memenuhi penugasan Mata Kuliah Antropologi Sosial (KPM 233) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dr.Ir. Saharuddin, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penyusunan makalah ini.



Bogor, Januari 2014



Penulis


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada era modern ini, modernsisasi dan globalisasi sudah tidak bisa terelakkan lagi.Teknologi dan informasi berkembang sangat pesat, seolah tidak ada batasan antar negara di dunia, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun informasi.Komputer, televisi, internet, satelit komunikasi, dan pealatan canggih lainnya juga merupakan hasil nyata adanya modernisasi.
Tidak heran pula jika pengaruh modernisasi kini sudah dapat mengubah kebudayaan sedikit demi sedikit yang ada di setiap sudut daerah di Indonesia.Sebuah kebudayaan memiliki sistem yang menyeluruh. Antara satu elemen dengan elemen yang lain saling berhubungan satu sama lain. Karena itu, jika ada perubahan di salah satu elemen budaya, maka elemen-elemen budaya yang lain pun akan berubah.
Di Indonesia terdapat suku-suku yang sengaja mengisolasi diri terhadap teknologi.Salah satunya adalah suku Baduy.Masyarakat Baduy begitu taat dengan adat mereka untuk menolak kehidupan modern.Namun dengan pesatnya perkembangan modernisasi, bukan tidak mungkin modernisasi tersebut mulai menyentuh masyarakat Baduy.
Sekecil apapun perubahan yang terjadi, baik perubahan lingkungan alam/fisik maupun perubahan sosial menuntut adanya adaptasi dari masyarakat Baduy terhadap lingkungannya yang baru.Perubahan itu menuntut adanya perubahan kehidupan sosial-budaya pada masyarakat baduy tersebut.Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menulis makalah ini.

Perumusan Masalah

1.  Apa saja faktor yang menyebabkan munculnya modernisasi pada Suku Baduy?
2.  Bagaimana pengaruh modernisasi terhadap kehidupan sosial-budaya suku Baduy?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka makalah ini bertujuan untuk menganalisispengaruhdari adanyamodernisasi yang mulai menyentuh suku Baduy terhadap kehidupan sosial-budaya suku Baduy. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:
1.  Mengidentifikasi faktor apa saja yang menyebabkan munculnya modernisasi pada Suku Baduy.
2.  Menganalisis pengaruh modernisasi terhadap kehidupan sosial-budaya suku Baduy.




BAB I

MODERNISASI

Pengertian Modernisasi

Wilbert E Moore mengemukakan modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial kearah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri Negara barat yang stabil. Sementara menurut J W School, modernisasi adalah suatu transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya.
Modernisasi berasal dari kata modern yang berarti maju, modernity atau modernitas yang diartikan sebagai nilai-nilai yang berlakunya dalam aspek ruang, waktu dan kelompok sosialnya lebih luas atau unicersal.Modernisasi diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Berikut adalah pengertian modernisasi menurut beberapa ahli:
1.    Soerjono Soekanto modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning.
2.    J.W. Schoorl modernisasi merupakan penerapan pengetahuan ilmiah pada semua kegiatan, bidang kehidupan dan aspek kegiatan.
3.    Koentjaraningrat modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.

Syarat-syarat Modernisasi

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa sebuah modernisasi memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu sebagai berikut :
·       Cara berpikir yang ilmiah yang berlembaga dalam kelas penguasa ataupun masyarakat.
·       Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.
·       Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.
·       Penciptaan iklim yang menyenangkan dan masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.
·       Tingkat organisasi yang tinggi yang di satu pihak berarti disiplin, sedangkan di lain pihak berarti pengurangan kemerdekaan.
·       Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial.


BABII

SUKU BADUY

Etimologi

Sebutan "Baduy" merupakan berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain Nama Baduy ini diambil dari nama sungai yang melewati wilayah ini, yaitu adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka (Garna, 1993).

Wilayah

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” - 6°30’0” LS dan 108°3’9” - 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, CIkertawana, dan Cibeo.

Mata pencaharian

Orang Baduy tidak terpisahkan dari padi yang harus ditanam menurut ketentuan-ketentuan karuhun[1].Padi ditanam di lahan kering, huma[2]yang berada di luar dan di dalam desa, kecuali tidak boleh ditanam di hutan larangan yang berupa hutan tua di wilayah baduy dalam.Baduy merupakan salah satu bentuk subsisten yang tua usianya, padi tidak boleh dijual, ketentuan ini berlaku bagi seluruh orang Baduy. Tetapi hasil hutan seperti buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan dan jenis tanaman ladang lainnya boleh dijual untuk mendapatkan uang pembeli benang katun, ikan asin, garam, rokok, dan tembakau.

Tatanan Masyarakat dan Kebudayaannya

Masyarakat Baduy dalam hidupnya mengasingkan diri dari keramaian dan tidak mau tersentuh oleh kegiatan pembangunan dan teknologi.Wilayah Baduy Dalam, yang berada di pedalaman hutan, masih terisolir, dan belum tersentuh modernisasi. Kebudayaan mereka masih asli, peraturan yang tetap dipegang teguh hingga kini diantaranya budaya berjalan kaki, tidak memakai alas kaki, tidak menggunakan alat elektronik (teknologi), hanya mengenakan pakaian berwarna hitam/ putih yang dijahit sendiri, dan semua hal yang tradisional dan tidak merusak alam. Di perkampungan Baduy tidak ada listrik, tidak ada pengerasan jalan, tidak ada fasilitas pendidikan formal, tidak ada fasilitas kesehatan, tidak ada sarana transportasi, dan kondisi pemukiman penduduknya sangat sederhana.  Aturan adat melarang warganya untuk menerima modernisasi pembangunan.

Kelompok masyarakat

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka.Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih.Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing (non WNI).
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes.Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.
Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar.

Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat.Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan.Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu.Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya.Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapu'unan (kepu'unan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu[3], jaro dangka[4], jaro tanggungan[5], dan jaro pamarentah[6].

BAB III

FAKTOR YANG MENYEBABKAN MUNCULNYA MODERNISASI PADA SUKU BADUY


Pada zaman modern ini, akibat modernisasi terjadi perubahan pada masyarakat Baduy sedikit demi sedikit. Hal tersebut disebabkan olehfaktor-faktor  pendorong perubahan, meliputi:
·      Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain
Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
Hal ini sesuai dengan kondisi masyarakat Baduy yang  tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir  sehingga  kebudayaan luar belum masuk. Selain itu, orang Baduy dalam merupakan yang paling patuh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Adat).Akan tetapi seiring berjalannya waktu banyak wisatawan baik dalam maupun luar negri yang datang mengunjungi suku Badui dengan membawa pengaruh yang bermacam-macam yang jelas berbeda dengan adat Baduy.
Walaupun demikian perubahan dapat terjadi tanpa melanggar pikukuh, karena memang perbuatan tersebut dikehendaki atau keadaan yang memaksa sehingga perubahan terjadi diluar kehendak mereka, sehingga muncul toleransi dari pemuka adat terhadap hal itu.
·      Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )
Masyarakat Badui saat ini jauh lebih terbuka dan lebih bisa diajak bergaul ketimbang masyarakat Badui yang terdahulu, sehingga memudahkan mereka menerima kebudayaan baru walaupun hal itu sangat dilarang keras oleh tetua/pu’un mereka.
·      Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu
Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka saat ini menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio.  Sehingga mau tidak mau mereka berfikir untuk bisa mengikuti tren saat ini dan menunjukkan bahwa mereka juga merasa kurang puas dengan tekhnologi  yang mereka punya selama ini. Mereka ingin memiliki pengetahuan yang lebih dengan menonton tv atau mendengarkan radio.


BAB IV

PENGARUH MODERNISASI TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA SUKU BADUY


Masyarakat baduy sebagai masyarakat tradisional dapat dikatakan sebagai masyarakat yang sedang berkembang. Karena tidak saja perubahan yang berlangsung di dalamnya, juga ketaatan terhadap pikukuhnya mengalami proses pergeseran. Perubahan itu akan tampak dari pola pikir, cara bertindak, pemilikan barang organisasi sosial yang sebelumnya tidak dikenal dalam kehidupan mereka. Sejumlah warga masyarakat Baduy sengaja keluar dari desa kanekes untuk melonggarkan ikatan pikukuhnya, mereka lalu bermukim di desa-desa sekitarnya.
 Peningkatan jumlah penduduk yang mengakibatkan berkurangnya luas kepemilikan lahan pertanian setiap keluarga.Masyarakat Baduy-Luar yang sudah tidak memiliki lahan pertanian di dalam wilayah Baduy diharuskan mengolah lahan di luar wilayah, sedangkan masyarakat Baduy-Dalam mulai memperpendek masa bera lahannya.
Bertambahnya jumlah penduduk juga meningkatkan kebutuhan kayu pertukangan untuk membuat rumah. Kebutuhan akan kayu pertukangan yang menjadi masalah dalam membuat rumah.  Untuk mengatasi hal tersebut, aturan adat yang semula melarang menanam tanaman kayu di ladang berangsur-angsur mulai mengendur.  Kini masyarakat Baduy-Luar diperbolehkan menanam tanaman kayu di ladangnya.  Kayu hasil penebangannya ada yang dipakai sendiri dan ada pula yang sebagian dijual ke masyarakat luar. 
Interaksi dengan masyarakat luar baduy, saat ini terlihat perbedaan yang jelas pada kehidupan masyarakat Baduy-Luar dan Baduy-Dalam.  Perubahan status masyarakat telah terjadi pada kehidupan masyarakat Baduy.  Awalnya semua masyarakat Baduy harus ikut bertapa menjaga alam lingkungannya, sekarang ini hanya Baduy-Dalam yang tugasnya bertapa.Masyarakat Baduy-Luar tugasnya hanya ikut menjaga dan membantu tapanya orang Baduy-Dalam. Masyarakat Baduy-Luar mulai diperbolehkan mencari lahan garapan ladang di luar wilayah Baduy dengan cara menyewa tanah, bagi hasil, atau membeli tanah masyarakat luar. 
Masyarakat Baduy-Luar sudah mulai memakai baju buatan pabrik, kasur, gelas, piring, sendok, sendal jepit, blue jeans, sabun, sikat gigi, senter, dan patromaks; bahkan sudah cukup banyak masyarakat Baduy yang telah menggunakan telepon seluler.  Larangan penggunaan kamera dan video camera hanya berlaku pada masyarakat Baduy-Dalam; sedangkan pada Baduy-Luar sudah sering stasiun TV mengekspose kehidupan mereka.
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar.Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka.Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993).
Dari kesemua faktor-faktor di atas tersebut  bisa memicu perubahan sosial-budaya pada masyarakat Baduy tersebut baik itu faktor secara fisik maupun kebudayaan. Kesadaran akan nilai dan norma sosial Baduy setiap keluarga pun lambat laun bisa memudar dengan munculnya keinginan untuk mengalami kehidupan lain, begitu pula halnya dengan institusi sosial seperti gotong royong akan turut bergeser walaupun menyangkut kebutuhan masyarakat tetapi akibat perputaran imbalan jasa ke arah penggunaan materi yang sekaligus sebagai pembayaran. Hubugan yang erat antara migran baduy dengan orang baduy kanekes juga akan memberikan ide perubahan, karena mereka selalu berkomunikasi melalui saling mengunjungi dan membantu dalam tiap pekerjaan.
Perubahan yang dialami masyarakat baduy tidak lepas dari pengawasan pemuka adat yang selalu berusaha menentang segala bentuk perubahan yang terjadi dan berusaha mengembalikan kehidupan masyarakat yang sesuai dengan pikukuh.Penyimpangan-penyimpangan dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa anggota keluarga pada masyarakat panamping seperti penggunaan obat-obat dari luar misalnya, menunjukkan adanya keraguan dalam memilih cara hidup yang sudah berlaku (berdasarkan adat) atau melepaskannnya. Banyak mereka yang melanggar adat dengan alasan tidak diketahui Pu’un. Satu hal yang patut dicatat perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat baduy berlangsung menurut proses adaptasi dalam jangka waktu yang sangat panjang (relatif lama).

PENUTUP

Kesimpulan

            Modernisasi memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat suku Baduy, baik Baduy-Dalam maupun Baduy-Luar. Adanya faktor-faktor pendorong perubahan atau modernisasi membuat masyarakat suku Baduy secara perlahan berubah dan diperbolehkan untuk tidak mengikuti peraturan adat istiadat yang ada. Perubahan ini terlihat jelas pada masyarakat suku Baduy-Luar. Mereka secara perlahan mulai keluar dari adat suku Baduy yang tidak memperbolehkan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Penggunaan telepon seluler, kasur, gelas, piring dan barang-barang lainnya membuktikan bahwa mereka mulai berubah dan mengalami pergeseran terhadap adat istiadat suku Baduy. Di sisi lain, suku Baduy-Dalam masih tetap patuh mengikuti peraturan adat yang telah dibuat.

Saran

            Karena masih adanya masyarakat suku Baduy yang mengikuti adat istiadat untuk tidak berinteraksi dengan dunia luar, pemerintah seharusnya berusaha untuk memberi pengetahuan-pengetahuan agar masyarakat Baduy sadar akan pentingnya berinteraksi dengan dunia luar. Pemerintah dapat memberikan pemahaman atau sosialisasi tentang dunia luar tanpa harus merusak atau mengabaikan adat istiadat suku Baduy yang telah dibuat.


DAFTAR PUSTAKA


Artikel globalisasi dan modernisasi. 2013. [Internet]. [diunduh 2014 Jan 04]. Tersedia pada:.http://koleksi.org/artikel-globalisasi-dan-modernisasi
Garna Y. 1993. Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta [ID]: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.

Islamiyah V. 2012.Analisis perubahan sosial masyarakat Badui.[Internet]. [diunduh 2014 Jan 02]. Tersedia pada: http://vicky-nurul.blogspot.com/2012/02/analisis-perubahan-sosial-masyarakat.html.































[1]yaitu seperti bagaimana nenek moyang mereka menanam padi.
[2]ladang padi di tanah kering
[3]Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya
[4]Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes
[5] Pimpinan dari jaro tangtu dan jaro dangka
[6] Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional

0 komentar:

Posting Komentar