Mei 14, 2014

Bocah Empat Tahun, Mei 1998

BY R. IRINNE DEVITA ARIANY IN , , No comments

Sekilas menyingkap sejarah. Enam belas tahun yang lalu. Ketika Indonesia mengalami gejolak politik yang dahsyat. Rakyat marah, pemerintah pasrah, aparat keamanan berlindung dibalik topengnya. Indonesia keos.
Mungkin saat itu gua masih kecil, kalian masih kecil, kita masih kecil. Tapi semua kejadian itu terekam jelas di memori gua, memori seorang bocah empat tahun, yang hanya bisa menangis melihat keos nya Indonesia saat itu. Memori seorang bocah polos.

Ciputat, Mei 1998

Ilustrasi (sumber: internet)
Pagi itu, tubuh kecil ini sedang ringkih. Hanya sedang menangis. Gua sedang sakit saat itu. Tidak tahu menahu apa yang terjadi di luar sana, politik Indonesia. Yang gua tahu hanya Mamah. Untuk meredakan rengekan gua, mamah mencoba menenangkan. Pergilah mamah ke swalayan untuk membelikan oreo dan susu kotak, Borobudur Ciputat.

-memori gua menghilang-


Gua kembali terkoneksi. Tiba-tiba saja orang-orang berteriakan. "kebakaran! kebakaran!" nenek gua berteriak. mamah menggendong gua yang sedang terbaring, ayah dan tante gua berlarian ke dalam rumah. ada apa? gua tidak menangis, hanya melihat semua bergerak cepat, ketakutan.
Gua sudah berada di luar rumah, melihat ke langit, merah. Hari sudah sore. Ternyat tadi gua tertidur lama. Gua melihat percikan-percikan api dan asap yang mengepul tinggi. ada apa? gua masih terdiam, tidak ingin membuat mamah semakin sulit.

Ketika sudah keluar dari gang rumah gua, gua melihat banyak sekali orang. orang berlarian kesana kemari. Barang-barang, barang apapun, berserakan di tengah jalan, berceceran. Gua menengadah ke seberang jalan, ke gedung yang berjejer tepat di depan toko gua. Orang-orang berkumpul disana, banyak sekali, banyak juga yang gua kenal. Dan seperti dugaan gua, gua dibawa kesana oleh mamah.
Sesampainya disana gua digendong tante gua. "Neng, mamah mau pipis dulu ya ke rumah." kata mamah. Gua ragu, "hati-hati mah." padahal hati gua menolak. gua takut, gua khawatir.

Sambil melihat mamah menyeberang jalan, kembali ke rumah. gua tersadar. seluruh kota sudah porak poranda. api dimana-mana. kaca-kaca toko pecah. Gua melihat Ramayana yang berada di kiri rumah gua, hangus terbakar. Melihat Borobudur yang berada di kanan rumah gua, sedang terlalap api. ini apa?

mamah kembali, dengan ayah gua. ternyata mereka membawa kulkas dan barang-barang yang lainnya. mamah berbohong. Gua marah, gua menangis, gua takut. mamah menenangkan gua sampai akhirnya orang-orang berteriak "API!" ternyata gedung tempat gua mengungsi sudah sebagian terlalap api. api mulai menjalar. Gua dan semua orang yang ada disana kembali mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ke rumah saudara gua di samping Pasar Ciputat.

Beberapa hari berselang. Gua sudah kembali ke rumah. (sepertinya) keadaan sudah mulai kondusif. rumah gua (hampir) kosong. sebagia barang sudah diamankan, sebagian lainnya dijarah orang. semua peralatan band yang ada di rumah nenek gua habis. beberapa binatang peliharaan gua (bangau, kelelawar, dll) hilang. terdapat juga barang-barang jarahan yang terkumpul di sekitar rumah gua. 

Inilah, Mei 1998, yang dengan mata kepala sendiri, gua saksikan, gua alami.
- Bocah Empat Tahun, Mei 1998

0 komentar:

Posting Komentar