September 08, 2013

Setipis kabut dan kelabu

BY R. IRINNE DEVITA ARIANY IN No comments


Tulisan ini dibuat di tengah ke-absurd-an otak gua dan di sekeliling angin yang menemani. Bahkan gua pun gak ngerti maksud tulisan ini apa. Selamat ber-absurd-ria.


Sudah sejauh ini gua berjalan, mencari apa yang sebenarnya dilakukan mereka. Apa yang mereka cari. Apa yang mereka pikirkan. Sejauh ini pula gua buntu, belum mengerti kenapa ini dan itu tidak bisa disatukan.
Sampai suatu saat gua menemukan sebuah gerbang yang tadinya terkunci rapat kini penuh sesak dengan orang-orang yang mengantri ingin masuk ke dalam. Mungkin disana tingkat penasaran gua meninggi, gua pun ikut mengantri ingin melihat apa yang ada di dalam gerbang yang selalu terkunci itu.

Tak semua orang bisa masuk, ada yang tak kuat bahkan terlempar dari antrian. Gua menunggu dengan tertib sampai akhirnya bisa masuk dengan selamat. Di dalam sana, tak seorang pun gua kenal. Hanya beberapa orang yang familiar dan belum pernah bertegur sapa dengan gua.
Dengan sedikit kemampuan beradaptasi yang gua punya, akhirnya gua bertemu dengan sebuah kelompok yang kelihatannya pun masih canggung satu sama lain. Mau tak mau gua pun berkenalan dengan mereka yang asing.
Masih dengan misi awal gua, melihat mereka dari dekat, gua terus mempelajari kegiatan mereka. Mencari celah segala perbuatan mereka. Tapi tunggu, semakin jauh gua masuk ke gerbang itu tidak ada sedikitpun coreng yang biasanya gua lihat di luar sana. Kini gua bisa melihat dari dua sisi, ini dan itu.
Gua terus berjalan menelusuri setiap titik dalam gerbang itu, mempelajarinya, masih dengan misi awal gua. Tapi gua kembali bertemu dengan kelompok itu, kelompok yang gua temui di awal tadi. Mereka menyapa, tertawa, bersenda gurau. Gua pikir tidak buruk juga gua bergabung, untuk menemani kesendirian gua di dalam gerbang ini yang sedang menjalankan misi itu.
Gua dan kelompok itu sama-sama berjalan makin dalam untuk menuju satu titik yang sama. Tunggu, mau kemana gua? Gua berpikir sejenak, menengok ke belakang, kini gerbang terlihat samar di belakang. Gua bingung, masih terdiam, haruskah gua berputar arah dan kembali pulang? Seketika seseorang dari kelompok itu menarik gua, menarik  dengan lembut dan senyumnya, mengajak gua sambil bercerita. Gua terlena dan tak sadar langkah kaki gua pun bergerak mengiringi mereka.
Gua terbawa suasana. Tak sadar telah terlalu jauh dari gerbang utama. Gua tersontak, menoleh ke belakang dan tak melihat sedikitpun wujud gerbang itu. Kini gua hanya melihat orang-orang yang ada di dalam gerbang ini, tak ada corengan. Itu yang gua lihat.

Kembali gua meneruskan perjalanan, kali ini bukan hanya bersama kelompok yang sedari awal setia bersama gua, tapi bergerak beriringan bersama semua orang yang berda di gerbang ini. Termasuk dia, orang yang sepertinya sangat di Tuhan-kan disana. Orang yang selalu gua perhatikan gerak-geriknya, hampir tanpa lengah sedikitpun. Orang itu, entah mengapa mengeluarkan sebuah energi yang tidak dimiliki pengikutnya. Seakan gua pun tersedot ke dalam grafitasi kekuatan nya itu, menyebabkan ada sengatan di otak yang membuat otak gua terasa sedikit rusak karena kekuatan nya itu. Maka gua menyebutnya si ‘penarik’.
Tanpa sadar gua pun sudah berada di titik itu, titik yang dari awal dituju oleh orang-orang disini. satu per satu orang - orang itu mengepakkan sayapnya, berubah menjadi burung-burung yang berterbangan dengan bebasnya. Kelompok yang setia bersama gua sedari awal kini bersiap mengepakkan sayap mereka, saling berpandang, gua pun menitikan air mata. Gua gak mau berpisah dari mereka, kelompok yang selalu menemani gua itu.
Mereka memeluk gua erat, memeluk dengan hangat, menenangkan gua. Nyaman nya membuat isak tangis keluar lebih besar dari mulut gua ini. Sedikit demi sedikit orang-orang pun menghilang, sudah terbang mencari tujuan mereka. Hanya tersisa beberpa, kelompok gua dan si penarik.
Si penarik bersiap terbang, dia mengepakkan sayapnya, dia berubah menjadi elang, burung yang berbeda dari yang lain, gua terpana. Sementara teman-teman gua menarik gua untuk lekas terbang. Tanpa sadar gua pun mengepakkan sayap dan berubah menjadi burung. Terbang bebas menembus kabut melewati kelabunya awan sampai akhirnya menemukan angin segar, awan biru yang cerah.

Kini gua berada di sebuah dunia fana penuh dengan ketidakberujungan yang membawa gua ke dalam gerbang yang lain dengan orang-orang yang berbeda dan dengan otak yang rusak. Tidakkah ini setipis kabut dan kelabu?

0 komentar:

Posting Komentar